AYAH DAN IBU, PAHLAWANKU
"Ayah dan Ibu, Pahlawanku"
Ayahku seorang tukang
becak. Ibuku seorang penjual gorengan keliling. Mereka tak punya ijazah SD,
keduanya terhenti pada tahun ketiga, karena tuntutan ekonomi. Mereka tak ingat
tanggal lahirnya, tanggal pernikahan, bahkan tanggal lahirku dan adikku. Mereka
hanya tahu bagaimana caranya hidup dan mensyukuri hidup itu.
Aku anak sulung dari dua
bersaudara, adik perempuanku bernama Sesilia. Ia selalu membantu ibuku membuat
kue dan gorengan untuk dijual. Sementara aku.. Aku membantu mereka dengan
menjual koran. Aku menjadi penjual koran sejak masih duduk di kelas 2 SD.
Selain menjual koran, aku juga sering menjual minuman di Lampu Merah.
Orang tuaku adalah orang
Katolik yang sangat taat. Setiap pagi, mereka pergi ke Gereja untuk mengikuti
Perayaan Ekaristi. Mereka juga selalu membawaku dan Sesilia. Aku selalu ingat,
ayahku pernah berkata bahwa meskipun hidup kita miskin, tapi iman kita tidak
boleh miskin.
Kami tinggal di sebuah
rumah tua dan boleh dikatakan reot. Rumah itu berdindingkan bambu dan atapnya
dari daun kelapa. Hanya ada dua kamar kecil di dalamnya, satu untuk ibu dan
Sesilia, satu lagi untukku dan ayah. Tak ada listrik di rumah kami, otomatis
tak ada televisi, lemari es, setrika, atau benda elektronik lainnya. Tak ada
sofa atau kursi empuk yang mendiami ruang tamu kami. Hanya ada sebuah tikar
lusuh yang menjadi alas kami setiap pagi dan malam untuk makan bersama. Ya,
hanya pagi dan malam, karena memang kami hanya makan dua kali dalam sehari.
Ayah dan ibu selalu
mengajarkan kami untuk bersyukur. Setiap pagi, saat baru bangun tidur, kami selalu
berdoa bersama. Setiap petang, kami selalu berdoa Rosario bersama. Ayah dan ibu
menginginkanku menjadi seorang Imam, sedangkan adikku menjadi seorang
Biarawati. Mereka bekerja keras, membanting tulang, demi menyekolahkan kami.
Hingga akhirnya, selepas SMP, aku dikirimkan ke sebuah Seminari Menengah. Bisa
kubayangkan, betapa beratnya perjuangan mereka untuk bisa menyekolahkanku dan
adikku. Aku ingin sekali bisa membantu mereka. Puji Tuhan, selama SMA, aku
mendapatkan beasiswa, karena sering menjadi juara lomba Bahasa Inggris. Dengan
cara seperti itu, aku bisa meringankan beban kedua orang tuaku.
Setiap liburan, aku
membantu mereka. Seperti biasa, menjual koran, minuman atau makanan ringan.
Kadang-kadang, aku membantu orang berdagang di pasar, atau menjadi kuli di
pasar. Tak ada yang menyangka bahwa ternyata aku adalah seorang Seminaris.
Setiap petang, di Seminari
Menengah, aku selalu teringat akan kedua orang tuaku. Bayangan wajah mereka
yang dipenuhi peluh yang jatuh membasahi raga yang haus akan hidup yang
berkecukupan. Ah, ayah.. Keringatmu yang terkuras mengayuh becak tua milikmu,
mengantarkan para penumpangmu menuju tempat tujuannya, hanya untuk mencari
sesuap nasi bagi kami. Ayah, terima kasih. Ah, ibu.. Keringatmu yang terkuras
menjajakan kue dan gorengan di terminal, saat sang surya sedang berdiri di
takhtanya, hanya untuk mencari seteguk air bagi kami. Ibu, terima kasih.
Menjelang Ujian Akhir SMA,
aku dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar yang terus merasuki hati dan
pikiranku, "Sanggupkah aku menjadi seorang Imam? Sanggupkah aku mewujudkan
cita-citaku dan cita-cita orang tuaku itu?"
Sejujurnya, dari lubuk
hatiku yang paling dalam, aku juga sangat sangat sangat ingin melayani Tuhan,
menjadi seorang Imam. Tapi, di sisi lain, ketika aku menoleh ke belakang, aku
mendapati sebuah kenyataan pahit. Aku juga ingin bisa bekerja dan berkeringat
untuk hanya sekedar bisa mengajak ayah dan ibuku masuk ke sebuah mall, duduk
dan makan di sebuah restoran, atu jalan-jalan di tempat wisata. Hal-hal itu
memang tidak pernah kami alami sebelumnya. Setiap kali pertanyaan itu muncul,
aku selalu berlari pada Yesus. Aku selalu meminta jalan dariNya. Aku tak tahu
harus bagaimana.
Pergulatan batinku terus
berlangsung, hingga akhirnya, pada suatu sore, ketika aku sedang berdoa di
dalam Kapela, aku mendapati jawaban ini, jawaban yang telah Bunda Maria berikan
ketika Malaikat Agung Gabriel datang membawa kabar sukacita bagiNya "Aku
ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu." Saat itu juga,
kuserahkan seluruh diri dan hidupku, kuletakkan segala cita-cita, mimpi dan
harapanku pada tangan Yesus.
Perjalananku kulanjutkan.
Hari demi hari kulalui bersama Yesus, hingga pada suatu malam, dalam mimpiku,
aku melihat Yesus datang dan memintaku melayaniNya. Ketika aku memberanikan
diri bertanya padaNya tentang nasib keluargaku, dengan lemah lembut dan penuh
cinta, Yesus berjanji akan memberikan yang terbaik bagi mereka. Saat itu juga,
aku terjaga. Aku terbangun dari tidurku. Aku mulai berdoa. Aku ingat pesan
seorang Pastor asing yang pernah mengunjungi Seminari Menengah kami ini. Ia
pernah berkata "If you want to follow Jesus, you must leave all you
have." Kata-kata itu merasuki jiwaku. Ah, Yesus benar. Aku tak punya
alasan apapun untuk mengkhawatirkan kondisi keluargaku. Bukankah Yesus selalu
setia bersama kami? Lalu apa yang perlu kutakutkan? Tidak ada! Tidak ada yang
harus kutakutkan! Tidak ada!
Selepas SMA, aku berangkat
ke Seminari Tinggi. Orang tuaku sangat mendukungku. Adikku pun akan segera
masuk Biara saat ia lulus SMA nanti. Orang tuaku sangat senang dan bahagia.
Mereka selalu mendoakan kami, agar kami kuat dalam jalan panggilan suci kami.
Terima kasih ayah. Terima kasih ibu.
* * *
Hari ini adalah hari
pentahbisanku. Hari ini aku akan menjadi seorang Imam. Aku ditahbiskan bersama
ketiga sahabatku. Ayah, ibu, dan adikku yang kini telah menjadi seorang
Biarawati hadir dalam perayaan tersebut. Ayah dan ibu datang dengan mengendarai
becak tua ayah, meskipun jaraknya begitu jauh, bahkan sangat jauh. Aku melihat
ayah dan ibu tersenyum bahagia. Mereka mengenakan baju batik yang sepasang. Ibu
bilang, ia harus menabung selama tiga bulan agar bisa membeli sepasang baju
batik itu demi menghadiri perayaan tahbisanku ini. Ah, aku terharu. Rasanya aku
hampir menangis melihat kedua orang tuaku, dengan senyuman kebanggaan yang
terukir di wajah renta mereka. Entah berapa usia mereka, tapi raut wajah mereka
seolah menegaskan bahwa mereka masih sanggup, masih sangat sanggup untuk tetap
melanjutkan pelayaran hidup di dunia ini, meskipun badai itu tak kunjung reda.
Aku bangga pada orang tuaku. Aku bangga memiliki mereka dalam hidupku.
Tuhan,
terima kasih. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan dua pahlawan ini
bagiku. Terima kasih atas cintaMu yang begitu besar yang boleh kami alami
selama ini. Terima kasih Tuhan. Terima kasih.
By: Katarina Kewa Sabon Lamablawa
BERISTIRAHATLAH DALAM DAMAI ABADI
02' April 2016
Komentar
Posting Komentar